Rokan Hilir – Madah Tuah Negeri (MTN) Tanah Putih Tanjung Melawan yang tergabung dalam kafilah Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan turut ambil bagian dalam Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XX Kabupaten Rokan Hilir tahun 2025.

Pada pawai Ta’aruf tersebut, MTN bergabung bersama kafilah Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan yang didominasi busana Melayu berwarna biru donker. Berbeda dari peserta lainnya, MTN tampil tanpa seragam resmi. Sebanyak 25 orang anggota MTN mengenakan busana pemuda dan pemudi kampung era 1970-an, sehingga tampil mencolok dan unik saat melintas di hadapan Bupati Rokan Hilir beserta para undangan.
Tak hanya sekadar berparade, MTN juga menampilkan sketsa teaterikal mini berdurasi dua menit. Sketsa tersebut mengangkat pesan moral tentang pentingnya mengaji dibandingkan bermain “patuk lele”. Dikisahkan seorang anak bernama Abar yang menangis ketika dipaksa ibunya pergi mengaji. Melalui dialog singkat namun kuat, sketsa ini menyampaikan pesan, “Patuk lele bisa patah, tetapi mengaji tidak boleh patah, karena itu bekal untuk dunia dan akhirat.”

Penampilan singkat ini berhasil mencuri perhatian para undangan yang mendampingi Bupati Rokan Hilir dan mendapat apresiasi dari masyarakat yang menyaksikan pawai.
Salah seorang pengurus MTN, Rafi, menjelaskan bahwa naskah awal sketsa tersebut sebenarnya berdurasi sekitar lima menit. Namun karena keterbatasan waktu yang diberikan panitia pawai Ta’aruf, yakni hanya dua menit, dilakukan penyesuaian secara cepat. Ketua MTN sekaligus pengarah sketsa, Agung Kurnia, langsung menghubungi penulis naskah, Atuk Aal Rahim Sekha, melalui sambungan telepon untuk menentukan bagian dialog yang perlu dipangkas tanpa menghilangkan pesan utama.
“Alhamdulillah, dengan arahan singkat dan pengalaman yang ada, sketsa tetap bisa ditampilkan dengan utuh secara pesan,” ujar Rafi.
Saat kafilah Tanah Putih Tanjung Melawan bergerak pada barisan ketiga, para pelaku sketsa telah menerima pengarahan akhir dan berhasil tampil maksimal di hadapan rombongan Bupati Rokan Hilir.
Meski demikian, penampilan tersebut juga mendapat catatan dari pengamat seni Rokan Hilir, Deli Sitorus,saat acara berlangsung ada dilokasi. Deli Sitorus berdomisili di Deli, Sumatera Utara. Ia menyayangkan saat sketsa teater berlangsung, barisan kafilah justru bergerak meninggalkan titik penampilan.
“Sketsa teater itu bagian dari kafilah. Bukankah setiap kafilah dinilai secara keseluruhan?” ujarnya sambil tersenyum.
Menurutnya, ke depan diperlukan koordinasi yang lebih baik antara kafilah dan para pelaku seni agar seluruh potensi penampilan dapat dinikmati dan dinilai secara maksimal.
Agung Kurnia mengakui bahwa ini memang kurang berkoordinasi dengan pimpinan kafilah.
(Kontributor: Kobka Time)


