*BAGANSIAPIAPI, ROHIL* – Penggiat Budaya Melayu Rokan Hilir, meminta proses pemilihan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Rokan Hilir dilakukan secara terbuka dan transparan.
Pernyataan ini disampaikan menyikapi akan berakhirnya kepengurusan LAM Rohil dan rencana musyawarah pemilihan Ketua MKA yang baru.
LAM adalah rumah besar bagi seluruh anak kemenakan Melayu Rokan Hilir, bukan milik kelompok tertentu. Karena itu, proses pemilihannya harus melibatkan seluruh unsur pemangku adat, budayawan, dan tokoh masyarakat di setiap kecamatan.
> “Saya minta pemilihan Ketua Umum MKA LAM Rohil dibuka secara terbuka. Jangan tertutup. Beri ruang kepada seluruh budayawan, seniman, pelaku adat di 18 kecamatan untuk ikut ambil andil. Budaya Rohil ini luas, bukan hanya di kota saja,” tegas salah seorang kepada wartawan, Sabtu (29/9/2026).
menilai, keterbukaan ini penting agar LAM Rohil ke depan benar-benar menjadi lembaga yang kredibel, berwibawa, dan mampu menjaga marwah Melayu serta menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir di bawah kepemimpinan Bupati H. Bistamam.
“Jika pemilihannya terbuka, kita akan dapat pemimpin adat yang benar-benar paham adat, paham budaya, dan dicintai masyarakat. Bukan karena kedekatan atau kepentingan. Kita ingin LAM Rohil kuat, bermarwah, dan menjaga adat istiadat kita yang sudah mulai terkikis,” tambahnya.
Ia juga berharap Panitia Musda LAM Rohil nantinya mengumumkan secara resmi tahapan, syarat calon Ketua MKA, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada putra-putra terbaik Rohil yang peduli budaya untuk mencalonkan diri.
“Budayawan dari Pujud, dari Kubu, dari Tanah Putih, Bangko, Rimba Melintang, semua harus dilibatkan. LAM ini payung kita bersama. Mari kita jaga bersama-sama dengan pemilihan yang demokratis dan terbuka,” .
Hingga berita ini diterbitkan, pihak LAM Rokan Hilir belum memberikan keterangan resmi terkait mekanisme pemilihan Ketua MKA yang baru.


