MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA MELALUI COMPUTATIONAL THINGKING

Opini  Oleh: Miftahul Jannah, S.Pd

Guru SD Negeri 015 Seremban Jaya & Mahasiswi Pascasarjana Universitas Lancang Kuning dengan Ibu Raudhah Awal, Mata kuliah Teori dan Strategi Pembelajaran

Berfikir kritis merupakan elemen yang esensial dalam proses pembelajaran peserta didik. Melalui keterampilan berfikir kritis, peserta didik dapat diberdayakan untuk mampu menganalisa, menilai dan mengambil sebuah keputusan.

Kemampuan berpikir kritis adalah salah satu aspek yang penting bagi siswa sekolah dasar, karena dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap berbagai mata pelajaran dan meningkatkan prestasi akademik mereka (Setiawan, 2020), Selain itu, pengembangan kemampuan berpikir kritis dapat berkontribusi terhadap penanaman disiplin dan karakter siswa sekolah dasar (Azis, 2023).

 

Masalah utama yang sering dialami peserta didik berkaitan dengan kemampuan berfikir kritis selama proses pembelajaran adalah pemahaman konsep yang masih minim sehingga bedampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam problem solving skill. Berdasarkan penelitian oleh Kauri (2019) yang menyatakan bahwa computational thingking (CT) dapat digunakan sebagai cara lain dalam meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah bagi peserta didik yang mendukung kemampuan berfikir kriitis siswa.

Computational Thingking (CT) atau berfikir komputasi merupakan suatu proses penalaran yang diperlukan untuk memformulasikan suatu masalah dan mencari solusinya, yang mana solusi tersebut bertindak sebagai agen untuk memecahkan masalah dengan memproses informasi secara efisien. Pemikiran komputasional memfasilitasi pemecahan masalah dengan memecah masalah besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Saat mengatasi kesulitan, lebih mudah untuk mengidentifikasi pola masalah dan solusinya.

Computational Thingking (CT) dibagi menjadi lima tahapan dalam proses penerapannya, yaitu : Thinkering Creating, creating, debugging, persevering, collaborating.

1) Thinkering Creating, pembelajaran Computational Thingking diawali dengan tahapan berfikir (thinkering) ; siswa diarahkan untuk membentuk kelompok dan menyelesaikan permasalahan sekaligus mendemonstrasikan kasus dari materi yang telah di paparkan, penyampaian materi dapat disajikan melalui modul atau LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik);

2) Creating, fase selanjutnya adalah Creating atau berkarya, pada fase ini peserta didik mulai untuk mendesain percobaan atau membuat sesuatu berdasarkan konsep – konsep dan penjelasan guru yang telah didapatkan pada fase sebelumya (Creating). Peserta didik bekerja secara kelompok dalam merumuskan masalah, tujuan, menyusun alat, membuat sketsa, melakukan percobaan hingga menganilisis data yang telah diperoleh;

3) Debugging, pada tahapan Debugging hasil analisis data pada tahapan sebelumnya akan dianalisis kembali sebagai sebagai perbandingan dengan konsep sebenarnya.Pada tahapan ini peserta didik akan mengetahui kesalaham mereka apabila terjadi ketidaksesuaian antara teori dan prakter yang telah dilaksanakan;

4) Persevering, pada tahapan ini peserta didik akan memperbaiki ketidaksesuaian antara teori dan praktek melalui perhitungan ataupun mengulangi kembali percobaan yang telah dilakukan sebelumnya;

5) Collaborating, pada fase ini siswa akan bertukar pikiran tentang konsep yang telah dipelajarinya, guru akan bertindak sebagai moderator dan memimpin diskusi kelas sambil memaparkan temuan percobaan siswa. Guru kemudian akan menyatukan ide-ide siswa dan memperjelas konsep sehingga pada tahap pembelajaran kolaboratif ini tercapai pembelajaran yang utuh.

 

Computational Thingking (CT) memberikan banyak manfaat bagi peserta didik diantaranya : melatih kemampuan siswa dalam berfikir logis, kritis, sistemtis dan terstruktur.; Computational Thingking mampu meningkatkan kemampuan problem solving dalam kehidupan sehari – hari; mendorong siswa dalam meningkatkan prestasi akademik ; dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih, kondusif, aktif dan bermakna.

Computational Thinking (CT) adalah sebuah metode pembelajaran yang telah dikembangkan dan diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan di Inggris sejak tahun 2014.

Pengajaran dengan pendekatan CT diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah secara efektif.

CT sendiri adalah cara berpikir yang berfokus pada komputasi, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah yang kompleks.

Guru dapat memberdayakan individu, meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia, dan menghasilkan generasi yang mampu dengan memasukkan pemikiran komputasi ke dalam kegiatan pendidikan.

Hal ini juga terkait dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tentang kurikulum mandiri yang memasukkan pemikiran komputasi ke dalam mata pelajaran matematika, sains/STEM, dan bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Guru di Indonesia harus memiliki keterampilan dalam menerapkan inovasi pembelajaran agar siswa mampu menjadi generasi yang berdaya saing. Mari kita berkolaborasi dan menebar praktik baik dari penerapan pembelajaran komputasional demi mendukung kemampuan berfikir krirtis siswa.

 

Rujukan

Setiawan, H.R., Rakhmadi, A.J., & Hidayat, M. (2020). Pemanfaatan Media Rubu’ Al-Mujayyab Pada Pembelajaran Matematika di Sekolah. Jurnal Idrak. Vol. 2 (2) : 224 : 235.

Azis, A., Saleh, M., Artikel, I., & Abstrak (2023). Budaya Sekolah untuk Penguatan Karakter Disiplin Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan. Vol. 11 (1) : 1 – 6.

.

 

 

 

 

 

idulfitri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *