Dihujung pengabdian
Sosok panutan, Atuk, ayah, Abang dan sekali sekala ku memanggilnya broo, begitulah rendah hatinya sang seniman Rohil yg dedikasinya pada dunia teater dan sastra.
Ia selalu memberi masukan yg sangat santun dan penyabar sosok itu ku kenal adalah bang Al, sebutan ku.
Kepergiannya membuat kita terhejuh sebentar tiasa kabar sakit tiada pertanda apapun seyogyanya ia akan ke bagansiapiapi membicarakan pokok pikiran kesenian yang berlian.
Sering dibawah pangkat anak dan cucu memanggilnya Atuk Al, itulah nama akrab dan sapaan seniman Rohil, dan sudah banyak karya mu yg engkau buat
Selamat jalan sahabat ku. Surga Disisi mu.
Terakhil almarhum mengirimkan kisah dibalik pagar kubu.
Kasih di Balik Pagar Kubu
Hikayat Cinta Raja Megat Mahkota dan Tun Rinti
Disusun : AL I D R U S
BAGIAN 13
Sidang Besar Kerajaan Kubu.
Syahdan…
Meski Tun Rinti telah menjawab fitnah dengan kelembutan dan kebijaksanaan, riak-riak perpecahan masih terasa di dalam istana.
Sebagian pembesar mulai luluh.
Sebagian lagi masih menyimpan curiga di dalam hati.
Kerajaan Kubu yang baru saja pulih daripada perang dan pengkhianatan hampir kembali diguncang oleh bisik-bisik manusia.
Dan pada masa itu…
Takhta kerajaan sebenarnya masih berada di tangan Raja Panglima Hitam — raja tua yang disegani di seluruh pesisir Sungai Lunas.
Raja Megat Mahkota memang telah dipercaya memimpin negeri dan urusan perang, namun baginda belum sepenuhnya menggantikan Raja Panglima Hitam di atas singgasana utama.
Raja tua itulah yang dahulu, selepas menyatukan wilayah-wilayah tepian sungai, menyatakan:
“Mulai hari ini, tanah di sepanjang aliran ini bernama Kubu.
Sebab negeri ini akan menjadi kubu bagi rakyat kecil, tempat berlindung daripada ketakutan dan penindasan.”
Dan bukan hanya negeri itu yang diberi nama oleh baginda.
Raja Panglima Hitam juga menitahkan bahawa Sungai Lunas yang membelah wilayah kerajaan mulai hari itu disebut sebagai Sungai Kubu.
“Biar sungainya membawa nama negeri ini sampai ke laut,” titah baginda.
Maka sejak masa itu, para pelaut, pedagang, dan orang-orang pesisir mulai mengenal aliran besar tersebut dengan nama baru:
Sungai Kubu.
Nama itu perlahan menyebar hingga ke negeri-negeri seberang bersama perahu dagang yang hilir mudik membawa hasil bumi Kubu.
Ketika mendengar keadaan istana mulai tidak tenteram, seorang pembesar tua yang arif bernama Datuk Kancil segera mengambil langkah.
Datuk Kancil ialah penasihat kerajaan yang terkenal tenang dan bijaksana.
Usianya sudah lanjut, tetapi pikirannya masih tajam seperti mata elang.
Ia berkata kepada Raja Panglima Hitam:
“Tuanku… api kecil kalau dibiarkan akan membakar balairung.”
Raja Panglima Hitam mengangguk perlahan.
“Lalu apa cadanganmu, Datuk?”
“Kita adakan sidang besar kerajaan. Biar semua bicara dibuka terang di hadapan rakyat dan pembesar.”
Raja tua itu memandang jauh ke arah Sungai Kubu yang berkilau diterpa cahaya pagi.
“Baiklah.”
Maka beberapa hari kemudian, balairung besar Kerajaan Kubu dipenuhi manusia.
Para pembesar negeri hadir dengan pakaian kebesaran masing-masing.
Hulubalang berdiri berjajar membawa tombak dan keris pusaka.
Rakyat dari kampung-kampung tepian sungai juga diizinkan menyaksikan sidang itu.
Suasana terasa tegang.
Di ujung balairung, Raja Panglima Hitam duduk di singgasana utama dengan jubah hitam kebesarannya.
Di sebelah kanan berdiri Raja Megat Mahkota.
Sementara Tun Rinti duduk tenang bersama perempuan-perempuan istana, wajahnya tetap teduh meski menjadi pusat perhatian seluruh balairung.
Datuk Kancil melangkah ke tengah lalu berkata lantang:
“Hari ini kita berkumpul bukan untuk mencari musuh… tetapi mencari kebenaran demi negeri Kubu.”
Balairung sunyi.
Datuk Sang Nila kembali berdiri.
“Patik tetap khawatir hubungan Raja Megat dengan Tun Rinti akan membawa pengaruh besar orang Johor ke dalam kerajaan.”
Beberapa pembesar mengangguk pelan.
Namun sebelum suasana memanas, Raja Panglima Hitam mengangkat tangan.
“Cukup.”
Suara raja tua itu masih berat dan disegani.
“Beta mahu mendengar sendiri daripada Raja Megat Mahkota.”
Semua mata langsung tertuju kepada Raja muda itu.
Raja Megat melangkah perlahan ke tengah balairung.
Wajahnya tenang.
Tatapannya mantap.
Baginda memandang rakyat dan para pembesar satu demi satu sebelum mulai berbicara.
“Sejak kecil beta diajarkan bahawa seorang raja bukan pemilik negeri.”
Balairung hening.
“Raja hanyalah penjaga amanah rakyat.”
Suara baginda bergema lembut namun kuat di seluruh ruangan.
“Beta sudah melihat perang. Melihat darah. Melihat pengkhianatan. Dan beta belajar… negeri tidak akan runtuh kerana kasih.”
Raja Megat lalu menoleh ke arah Tun Rinti.
“Negeri akan runtuh kalau manusia lebih memelihara iri daripada budi.”
Beberapa pembesar mulai tertunduk.
Raja Megat melanjutkan:
“Tun Rinti tidak pernah meminta kuasa. Tidak pernah meminta harta. Bahkan ketika difitnah… dia memilih menjaga ketenangan negeri daripada membela dirinya sendiri.”
Suara baginda mulai lebih dalam.
“Kalau ada yang bertanya siapakah Tun Rinti bagi Kubu…”
Raja Megat menarik napas perlahan.
“Maka jawapan beta — dia bukan ancaman.”
Baginda memandang seluruh balairung dengan mata yang jernih.
“Dia ialah penyejuk bagi negeri ini.”
Suasana mendadak begitu sunyi hingga suara angin dari Sungai Kubu terdengar masuk melalui celah balairung.
Raja Megat kemudian berkata lagi:
Kalau hendak membangun negeri,
Jangan hanya kuat di tangan.
Negeri yang besar berdiri,
Kerana kasih dan kepercayaan.
Di sudut balairung, beberapa rakyat mulai mengusap mata mereka.
Mak Busu yang ikut hadir menahan tangis haru sambil berbisik:
“Budak itu sudah benar-benar jadi pemimpin.”
Datuk Temenggung Wiralaga perlahan bangkit berdiri.
Ia menundukkan kepala kepada Raja Megat dan Tun Rinti.
“Patik… menarik kembali segala keraguan patik dahulu.”
Satu demi satu pembesar lain mulai mengangguk.
Bahkan rakyat di belakang balairung mulai bersorak perlahan:
“Hidup Raja Megat!”
“Hidup Tun Rinti!”
Raja Panglima Hitam memandang semua itu dengan mata tua yang penuh makna.
Lalu perlahan baginda tersenyum tipis.
“Kalau rakyat sudah menerima… maka negeri ini telah menemukan jalannya.”
Sorak rakyat makin menggema memenuhi balairung besar Kerajaan Kubu.
Dan pada hari itu…
bukan pedang atau perang yang menyatukan kembali hati manusia…
melainkan keberanian berkata jujur, kebijaksanaan menerima, dan kasih yang dijaga dengan kehormatan.
Bersambung


